Minggu, 03 Agustus 2014

Untuk adikku

"Jemari kecil itu mencoba mengenggam lenganku, seolah ingin terus berada di pundakku ".
Ini kisah ketika remaja itu masih mencoba belajar merangkak, masih meraba dunia yang baru dilihatnya. Aku adalah saksi dimana seorang bayi laki - laki terlahir begitu perkasa, terpancar aura segar laksana oase di padang rumput. Dia tersenyum sembari menggerakkan kepalan tinju kecil yang kelak menjadi senjatanya saat dewasa, sesekali dia meriuhkan suasana dengan tangisannya,  dialah pelengkap alunan nada yang sebelumnya terasa belum sempurna, kepingan hidup yang telah lama dinantikan.
Musim terus berganti, beriringan dengan kakinya yang mulai belajar menopang tubuh selayaknya serdadu kecil. Dia mulai mengayuhkan paha seraya prajurit bersiap perang, mengepalkan jemari agar kuat menopang badan, dia berjalan, balita itu akhirnya berjalan..
takkulepaskan lengan kecilnya dari pandanganku, tatapan penuh semangat itu semakin membuatku bersiap untuk beradu keringat menaklukan debu di tiap ruas jalan, sungguh penghibur jiwa, semua orang bersiap menyambut langkah pertamanya.
Hampir dua belas kali musim hujan kulewati bersamanya, walau disela itu ada musim kering melanda pemukiman, dan goncangan bumi sempat menakuti tubuh mungilnya, tapi semua terasa layaknya angin, sungguh cepat berlalu.
aku melewatkan tiga tahun perkembangannya, melewatkan periode dimana ia mulai belajar mengejar angin. Hingga saat aku kembali, balita itu sudah mahir membaca kata dan melukiskan angka dalam hidup. ia mulai beranjak remaja. Tapi periode ini lah yang kusesalkan dalam hidup, aku tak banyak memberi arah, tak ada satu pun langkah yang seharusnya aku tunjukkan. banyak hal yang tak seharusnya dilihat mata kecilnya, kala aku berani beradu amarah dengan orang tua, atau kala aku mulai seolah olah menjadi raja di segala raja, semua terlihat sangatlah memalukan. aku masih menyesali periode ini.
Kini ia adalah penakluk ruas jalan pulau seberang, sungguh jauh ilmu yang ia kejar, sungguh jauh alam yang ia coba hirup. berjuta harapan mengiringi langkahnya, berjuta bangga tersemat di mimpinya. aku masih di tanah leluhur, berkeluh kesah dengan takdir nenek moyang.
hanya satu yang menjadi doaku, hingga kelak ia mulai menaklukkan gunung seberang, atau mampu melihat dataran dari puncak, sudilah ia kembali mengenggam pundak lusuh ku, pundak kuat kakaknya yang siap kembali mengajaknya berjalan - jalan.

Minggu, 14 Juli 2013

“Thank you for the tragedy, I need it for my art “ – Kurt Cobain



“Thank you for the tragedy, I need it for my art “ – Kurt Cobain

Yup, itulah sedikit penggalan kalimat yang pernah ditulis pentolan nirvana ini. Aku menyukai kalimat tersebut, sebuah goresan dengan gamblang bahwa apapun itu yang kau sebut petaka, masalah, ancaman, akan menjadi sesuatu yang kau rindukan kedepannya, itu memberimu keindahan, keindahan yang akan kau rindukan ketika hidup hanya menjadi cerita manis namun tetap berakhir.
Aku mungkin belum melewati beribu macam keadaan dalam hidup, belum merasakan berjuta rasa tentang dunia, belum mendengarkan sekian banyak cerita tentang rotasi waktu, tapi aku bukan lelucon alam yang menggelitik dan hanya jadi pajangan bumi Pencipta. Aku belajar, aku mendengarkan, aku merasakan setiap jalan yang kulewati. Mereka boleh saja berlari ketika aku masih berjalan, boleh saja tertawa ketika aku tengah sibuk menahan air mata, tapi kenyataan nantinya aku masih kuat ketika mereka mulai goyah.
Percayalah , akan banyak manusia dengan gampang mengungkit kesalahanmu, menyinggung kebodohanmu, atau bahkan mulai berani menghakimimu layaknya dialah yg menciptakanmu. Tapi bukankah hidup ini selalu ada keindahan dalam tiap seni yang tercipta. Mereka lupa, lupa akan kebosanan yang terasa, ketika hidup hanya di isi oleh kebenaran, kehebatan, kepiawaian, yang bahkan kenyataannya itu semua hanya dapat dinikmati sendiri, bukan milik sosial, bukan milik lingkungan tempat mereka bernafas.
Apapun nantinya, percayalah tak ada yang lebih indah dari masalah, takkan ada yang lebih menyenangkan dibanding kenyataan bahwa kita pernah terjatuh, kita pernah tergelincir sehingga menciptakan selangkah harapan didepannya. For one more time, thanks for the tragedy, I need it for my art, my future, my hope.

Senin, 01 April 2013

About Enemies


Aku menikmati musuh – musuh dalam realita hidup yang sedang kujalani, mereka yang berkicau dibelakang layar, mereka yang meludahi  jejak yang kutinggalkan , bahkan mereka yang tertawa setelah ikut dalam kesedihanku. Aku mencintai kepalsuan mereka, aku merindukan tusukan – tusukan mereka, bahkan aku memimpikan darah yang mereka tinggalkan. Ini bukan tentang mencari musuh, ini hanya bentuk realisasi betapa aku menikmati hidup, menikmati persaingan ditiap sempitnya waktu untuk bernafas. Kita selalu berharap kedamaian dalam kesinambungan hidup bersosial, kita pasti memimpikkan dunia yang penuh canda tawa. Tapi inilah realitanya, kenyataan kedamaian terlalu sulit menembus derasnya arus kemarahan ditiap celah ketenangan. Apa yang ingin kukatakan, hanya harapan agar memaafkan tiap musuhmu, biarkan mereka menjalani pekerjaan mereka, pekerjaan yang hampir tiap detik mereka lakukan hanya untuk membicarakan gerak langkah hidupmu.

“A man with no enemies is a man with no character.”
― Paul Newman

Heningnya Lilinku

Aku individu yang mencintai kesendirian, memanfaatkan setiap detik waktu yang mengitari tiap poros dunia. Aku mendiamkan setiap suara, menciptakan keheningan sebelum seribu lilin menerangi ruangannya. Sesekali kubertanya dengan lilin tersebut, “tak kah kau lelah sobat kecilku?,bertahan melawan derasnya angin yang ingin meredupkanmu”. Lilin itu tak akan pernah menjawab, karena dia bukan benda yang diciptakan untuk memberontak. Pemberontak itu diciptakan sebelum lilin, sebelum cahaya kecil menerangi kepuasan batin kebenaran. Pemberontak itu tercipta oleh sepucuk kebencian, kebencian akan terlalu kuatnya hakiki kebenaran menguasai tiap elemen dunia. Adakah mereka memenangkannya, mereka tak akan pernah memenangkan apapun, karena mereka tak pernah bersaing untuk apapun. Mereka hanya setiap kata yang terkutuk, mereka tiap air yang hina, mereka tak lebih dari segerombolan keledai hitam penjilat pantat kuda peersia. Aku berdiri sebelum ini, aku menghayal sebelum ini, aku terdiam sebelum ini menjadi kata kata. Biarkan aku menikmati keheningan ini, menikmati kebenaran yang telah banyak dijamah oleh ketidakadilan.

Hai ..


Selamat malam kasih .. Tak tahu kenapa aku lagi melow malam ini, aku sedang lembut, halus , seolah aku kertas putih yang tak tergores tinta sedikitpun. Aku tak habis memikirkan bayangan wajahmu, tak pernah  bosan melukiskan senyumanmu ditiap jalur bintang malam ini. Entah apa yang sedang merasuki ku, mungkin aku hanya rindu akan belaian lembut jari jemarimu, atau mungkin juga aku sedang merindukan sapaan disetiap kopi pagi ku. Oh ya apa kabar mata sipitmu ? aku rindu dimana matamu dengan genitnya menggoda mataku ? dengan lincahnya lidahmu  berkicau membangunkan tidur nyenyakku. Aku merindukan mu, aku merindukanmu di suasana seperti ini, sejuk tenang sembari menghabiskan beberapa cerita indah tentang hidup.  Aku merindukanmu kasih, rindu yang merenggut keberadaanku.

Selasa, 12 Februari 2013

Saat Lidah mulai "Bersilat"



Apa yang kau ketahui tentang negerimu ? tentang suasana istana milik penguasamu ? tentang peninggalan para pendahulumu ?

Kita sudah terlalu gamblang menerima suap penguasa, terlalu awam mengetahui strategi pemerintah. Sekian lama membusuk , mengerucut sembari berkoar dengan kondisi negeri yang kian sembraut. Kadang kita pura – pura jadi hakim, mencoba menghakimi tiap kesalahan yang diciptakan penguasa, berpura – pura jadi penasihat , memberikan masukan masukan bijak yang sebenarnya Cuma jadi pelengkap not dari lagu – lagu yang biasanya bersenandung indah di kendaraan mewah para raja.

Memang hanya ini yang bisa diperbuat, merangkai kata saat lidah siap bersilat, mengerutkan kening saat pemerintah mulai berpura – pura hening. Walau sebenarnya ada celah buat kita bertindak, kumpulkan pendapat susun rapat mandat, hingga akhirnya datang waktu yang tepat, tapi ingat Negara kita negaranya demokrat.

Saya mengingat cerita para veteran, berjuang keras sampai titik darah penghabisan, berlari tanpa letih kejar kepala para lawan, memenggal hingga akhirnya naiklah bendera kebangsaan, sampai mereka berdiri gagah dengan gelar kepahlawanan.

Sekarang cerita itu seolah terulang, dimana penjajah mulai saling berdatangan, sikut menyikut demi tahta kekuasaan, saut menyaut asal ada kepentingan.


Sabtu, 19 Januari 2013

10 : 10

Kupeluk langkah menuju kegelapan dunia, terus menerus menelusuri liku hidup tanpa perhentian waktu yang pasti. Aku baru mencoba, memahami isi dan seluk beluk alam kaku yang diciptakan Penguasa Sejagat. Belum sampai apa yang terimpikan, kini aku harus berusaha menyelaraskan waktu dan keadaan yang benar – benar tak pernah berpihak padaku. Menyerah ?? belum kupikirkan, karena pada dasarnya dunia memang begini adanya. Beginilah seharusnya dunia, memaksa batin dan raga berjuang bertarung mengalahkan nafsu dan keinginan yang menggebu akan kepuasan setengah dari yang tersedia. Dimana keseimbangan yang dijanjikan Tuhan ?? aku bukan mengeluh pada keadaan, hanya berjuang mendapatkan waktu yang seharusnya memang milikku sendiri. Kini ragaku sedang berteduh, merebahkan penat pikiran yang penuh sesak dengan tuntutan batin yang berkepanjangan. Kunikmati keindahan alam yang sesekali tersenyum lembut padaku, hela nafas yang perlahan kuhembus seolah – olah beradu merdu dengan desiran angin yang menggoyangkan ranting – ranting pohon penyanggah alam. Terus terlelap dalam keheningan, sudah enggan rasanya kuperintahkan kaki lapukku untuk bergerak. Tangan kusamku layaknya hakim ulung yang siap menghukum hatiku yang terlalu banyak menyimpan kemunafikan. Mungkin memang sebaiknya aku nikmati saja dulu waktuku, menunggu perjalanan musim hujan yang kini mulai memasuki fase menghibur. Sebelum kupejamkan mata lesu ini, aku berharap pada setiap keindahan dunia agar kiranya memberikan seperempat keindahannya untuk akhir ceritaku nanti.

Kamis, 15 November 2012

THE DAY OF HERO



10 November 2012

                Well, tulisan ini seperti biasa dimulai dengan sebatang rokok hitam dengan kombinasi hangat kopi lokal buatan negeri.  Aku kembali menikmati malam ini, malam lanjutan perjalanan umur yang mengalir  pelan namun seolah terlalu memaksakan. Kita tak bisa menolak waktu, terlalu lemah untuk sekedar menghentikan putaran bumi walau Cuma satu detik.  Banyak hal yang telah terjadi, menemukan , menjalankan, merawat, bahkan menghilangkan sesuatu hal dalam hidup, dan yang terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah menjalani. Kita mungkin terlambat sedikit untuk dilahirkan, atau mungkin terlalu cepat bagi individu yang terlalu lemah untuk mengenang sejarah. Ya, kita mempunyai sejarah, sejarah waktu, tempat, kondisi, keadaan, bahkan kematian. Ada yang menyebut sejarah sebagai perjalanan, ada juga yang menjulukinya kutukan, jadi dimanakah sejarah kita ditempatkan ??.
                Aku bukan sejarahwan, yang terlalu naïf untuk dimasukan dalam selembar kertas kepahlawanan. Terkadang untuk mendapatkan keuntungan kita harus memberikan kerugian yang sama lurusnya dengan jalan keuntungan yang kita pilih. Mereka yang selalu menangis saat mendengarkan lagu kemerdekaan, mereka yang selalu terdiam ketika seseorang membacakan cerita pahlawan, itukah yang kalian sebut nasionalis ?? manusia bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan, mereka menangis dan terdiam saat mengenang pahlawan karena mereka menyimpan tawa saat mendapatkan keuntungan.  Para koruptor negeri bisa dengan gampang mengeluarkan air mata saat hari pahlawan, para dictator bangsa akan dengan mudah menundukan kepala saat mendengar lagu kebangsaan, jadi masihkah kalian akan membahas rasa nasionalis dan kepedulian??, karena jika aku menjadi kalian, aku hanya ingin mengatakan “go fuck your self” !!!.
                Tak ada manusia yang tak memiliki kepentingan , semua orang sudah memikirkan langkah setelah dia berdiri. Yang dibutuhkan saat ini adalah tujuan dari kepentingan yang kalian pilih, bukan sikap, ambisi, rencana, atau tindakan yang kaian lakukan. Aku terlalu sering mengenyam ucapan orang tua, terlalu kenyang disuguhi cerita soal perjuangan. Karena bagiku, mereka yang rela mati bagi negeri ini tak pernah meminta kalian untuk menangisi dan menundukan kepala didepan kuburan mereka.
                Adakah keuntungan yang kita  dapatkan dari kematian mereka ?? kita masih miskin, kita masih terjajah, kita masih dengan mudah dibodohi. Karena kematian yang mereka pilih,bukanlah mengajarkan kita untuk menangis saat mengenang, melainkan kematian mereka mengajarkan kita untuk berani “mati” dalam tindakan. Kita menjadi saksi atas bukti dari tujuan kepentingan mereka, dan kita pun tak akan pernah bisa memesan siapapun untuk menjadi saksi dari bukti tujuan kepentingan kita kelak. Biarkan orang berkata apapun tentang tindakan yang kita pilih, karena pada dasarnya dia sudah melakukan tindakan yang dia pilih.
“  heroes are those who never asked to be remembered”.