Untuk adikku
"Jemari kecil itu mencoba mengenggam lenganku, seolah ingin terus berada di pundakku ".
Ini kisah ketika remaja itu masih mencoba belajar merangkak, masih meraba dunia yang baru dilihatnya. Aku adalah saksi dimana seorang bayi laki - laki terlahir begitu perkasa, terpancar aura segar laksana oase di padang rumput. Dia tersenyum sembari menggerakkan kepalan tinju kecil yang kelak menjadi senjatanya saat dewasa, sesekali dia meriuhkan suasana dengan tangisannya, dialah pelengkap alunan nada yang sebelumnya terasa belum sempurna, kepingan hidup yang telah lama dinantikan.
Musim terus berganti, beriringan dengan kakinya yang mulai belajar menopang tubuh selayaknya serdadu kecil. Dia mulai mengayuhkan paha seraya prajurit bersiap perang, mengepalkan jemari agar kuat menopang badan, dia berjalan, balita itu akhirnya berjalan..
takkulepaskan lengan kecilnya dari pandanganku, tatapan penuh semangat itu semakin membuatku bersiap untuk beradu keringat menaklukan debu di tiap ruas jalan, sungguh penghibur jiwa, semua orang bersiap menyambut langkah pertamanya.
Hampir dua belas kali musim hujan kulewati bersamanya, walau disela itu ada musim kering melanda pemukiman, dan goncangan bumi sempat menakuti tubuh mungilnya, tapi semua terasa layaknya angin, sungguh cepat berlalu.
aku melewatkan tiga tahun perkembangannya, melewatkan periode dimana ia mulai belajar mengejar angin. Hingga saat aku kembali, balita itu sudah mahir membaca kata dan melukiskan angka dalam hidup. ia mulai beranjak remaja. Tapi periode ini lah yang kusesalkan dalam hidup, aku tak banyak memberi arah, tak ada satu pun langkah yang seharusnya aku tunjukkan. banyak hal yang tak seharusnya dilihat mata kecilnya, kala aku berani beradu amarah dengan orang tua, atau kala aku mulai seolah olah menjadi raja di segala raja, semua terlihat sangatlah memalukan. aku masih menyesali periode ini.
Kini ia adalah penakluk ruas jalan pulau seberang, sungguh jauh ilmu yang ia kejar, sungguh jauh alam yang ia coba hirup. berjuta harapan mengiringi langkahnya, berjuta bangga tersemat di mimpinya. aku masih di tanah leluhur, berkeluh kesah dengan takdir nenek moyang.
hanya satu yang menjadi doaku, hingga kelak ia mulai menaklukkan gunung seberang, atau mampu melihat dataran dari puncak, sudilah ia kembali mengenggam pundak lusuh ku, pundak kuat kakaknya yang siap kembali mengajaknya berjalan - jalan.
