Saat Lidah mulai "Bersilat"
Apa yang kau ketahui tentang negerimu ? tentang suasana
istana milik penguasamu ? tentang peninggalan para pendahulumu ?
Kita sudah terlalu gamblang menerima suap penguasa, terlalu
awam mengetahui strategi pemerintah. Sekian lama membusuk , mengerucut sembari
berkoar dengan kondisi negeri yang kian sembraut. Kadang kita pura – pura jadi
hakim, mencoba menghakimi tiap kesalahan yang diciptakan penguasa, berpura –
pura jadi penasihat , memberikan masukan masukan bijak yang sebenarnya Cuma jadi
pelengkap not dari lagu – lagu yang biasanya bersenandung indah di kendaraan
mewah para raja.
Memang hanya ini yang bisa diperbuat, merangkai kata saat
lidah siap bersilat, mengerutkan kening saat pemerintah mulai berpura – pura hening.
Walau sebenarnya ada celah buat kita bertindak, kumpulkan pendapat susun rapat mandat,
hingga akhirnya datang waktu yang tepat, tapi ingat Negara kita negaranya demokrat.
Saya mengingat cerita para veteran, berjuang keras sampai titik darah penghabisan, berlari tanpa letih kejar kepala para lawan, memenggal hingga akhirnya naiklah bendera kebangsaan, sampai mereka berdiri gagah dengan gelar kepahlawanan.
Sekarang cerita itu seolah terulang, dimana penjajah mulai saling berdatangan, sikut menyikut demi tahta kekuasaan, saut menyaut asal ada kepentingan.
